Arti Sembayang Kue Kura-Kura Bagi Etnis Tionghua



Dalam tradisi keluarga etnis Tionghoa, makan kue tampaknya bukan sekadar sesuatu untuk dimakan. Makan kue, khususnya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, juga dipercayai sebagai keberuntungan. Mereka percaya, memulai hari pertama di awal tahun dengan baik akan membawa keberuntungan sepanjang tahun. Begitu juga bagi umat Tridharma (Taoisme, Khonghucu, dan Budha) di Kelenteng Tien Kok Sie. Siang itu, Sabtu (14/1), atau sepekan jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2568/2017, sejumlah ibu paruh baya terlihat duduk lesehan di lantai kelenteng yang terletak di selatan Pasar Gede Kota Solo. Di tengah aroma wangi dupa menyapa, tangan mereka dengan hati-hati memindahkan kue berbentuk seperti kura-kura dari tumpukan loyang ke piring plastik berwarna hijau. Agen Poker 

"Merah, hijau, putih, biru, kuning. Jangan sampai terbalik menatanya," ujar Budiono Tekgiyanto mengingatkan para ibu tersebut agar menata kue sesuai arah jarum jam. Menurut pria yang menjabat sebagai Kepala Ritual kelenteng yang juga dikenal sebagai Vihara Avalokiteswara, kue berbentuk seperti kura-kura itu dalam bahasa Mandarin disebut Ang Ku. Berbahan ketan atau wajik, Ang Ku melambangkan panjang umur seperti halnya kura-kura yang mampu hidup sampai ratusan tahun. "Meski paling lambat jalannya, kura-kura itu panjang umurnya. Kalau soal unsur lima warna (merah, hijau, putih, biru, kuning) itu filosofisnya kita memohon kepada sang pencipta agar kesuksesan kita sampai lima keturunan, dari bapak, anak, cucu, buyut, cicit. Sedangkan ketan itu melambangkan keuletan, dan tentu saja kesuksesan, keberuntungan, hubungan pertemanan biar bisa lengket (lekat)," beber dia.

Di Baca Juga : Ini Alasannya Kenapa Sering Menyelam Dapat Menyebabkan Sakit Gigi 

Begitu selesai menata kue ketan menyerupai kura-kura, tangan para ibu keturunan etnis Tionghoa itu kembali bergerak lincah. Kali ini aneka sesaji lainnya berupa buah-buahan, permen, manisan, lilin berbentuk teratai kembali ditata sedemikian rupa. Tak ketinggalan, sejumput gula, beras, dan teh yang disimpan dalam kotak kecil merah bertuliskan bahasa Mandarin mereka sandingkan jadi satu diatas piring berwarna hijau tersebut. "Apel filosofisnya diberi bimbingan agar kita terus selamat. Sedangkan jeruk itu diharapkan bisa menyelesaikan persoalan sekecil atau sebesar apapun. Kalau permen dan manisan itu agar hidup kita bisa semanis permen dan manisan. Untuk lilin dan teratai biasanya dinyalakan pada malam pergantian Tahun Baru Imlek. Harapannya, mulai jam 00.00 di tahun yang baru kita bisa sukses, dan lebih terang dari tahun sebelumnya," imbuh Budiono Tekgiyanto atau akrab disapa Atek. Agen Domino 

Ia menambahkan, semua sesaji itu merupakan pesanan bak "parcel" dari umat Kelenteng Tien Kok Sie. Selain dibagikan kepada keluarga dan kerabat dekat, tentu saja digunakan sebagai persembahan sembahyang kepada para Dewa. Kendati ada perbedaan di masing-masing kelenteng, namun tradisi sesaji kuno itu tujuanya sama yakni untuk meminta keselamatan. "Namun ini semua kembali lagi kepada perilaku manusianya," pungkas Atek.

Artikel Terkait : Jawadomino Agen Judi Domino Online Paling Top 


Daftar sekarang Juga  di JAWADOMINO.COM              
AGEN POKER DOMINO ONLINE TERPERCAYA INDONESIA
Hot promo dari jawadomino
- Bonus Referal 20% 
- Bonus Turn Over 0.5 %
Jangan ngaku jago main POKER kalau belum coba main di sini ya guys... Segera daftar kan diri anda di www.jawadomino.net                                                                             Permainan game poker online dengan minimal deposit 10ribu dan tarik dana 30ribu
100% no bot
Player VS Player
Tersedia 6 game dengan 1 user 
- Poker
- Domino 99
- Bandar Q
- Adu Q
- Capsa Susun
- Bandar Poker
100 % fair play, player vs player...
Info lebuh lanjut langsung livechat ke www.jawadomino.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar